Make your own free website on Tripod.com

Dialog Antara Kita

tidakkah kau lihat
warna darah yang kian merah
menetes panas membakar hati

itulah dendamku
amarahku
dari bekas cakar harimaumu

kini jangan lagi berdalih
atau coba runtuhkan idealisme

mestinya kau takut bicara
melihat ribuan kecewa mencaci maki
inginkan kau bicara
lewat nurani

dari bekas cakar harimaumu
itulah dendamku
amarahku
menetes panas membakar hati

ketika cinta kau balas
ternyata itu tikaman dari belakang
begitu pengecutnya kamu
ataukah memang sekerdil itu?

kau siapa
aku siapa
belumkah kau pahami
aku hanya ajari kamu hidup
dan belajar kenal diri sendiri

siapa aku
siapa kamu
hentikan omong besarmu!
aku ini penghianat
raja penipu
tapi aku pahlawan bagi mereka
untuk melawan kamu
dan kini
kukembalikan janjimu

kenapa kau khianati aku?
padahal aku senantiasa di pihakmu
agar kau bisa lakukan apa maumu

bicaralah semaumu
kan kulakukan pembalasan
sampai kau mengerti
kau penghianat
karena kami muak atas sikapmu

inikah balasanmu
atas kebaikan-kebaikanku?

jangan kau gunakan istilah kebaikan
bercerminlah pada mereka
agar kau mengerti
apa yang sebenarnya
telah kau lakukan

juga yang telah mereka lakukan

cepat bagai kilat
lantas kau pun tertegun cemas

warna merah yang kau ucap
bukan lagi sekedar amarah dan dendam
tapi kini telah bercampur ketakutan

padalah bukan kemauanku
namun akibat sikapmu

HUH..
aku tak ingin bicara
ternyata kau bicara
tak gunakan pikiran
lantas anggap diri paling benar

semoga ucapanmu benar
namun biarkan kenyataan bicara jujur
dan kita pun tetap saling menghianati
hingga tiba datangnya perubahan

dan kita saling membuka diri

bicara lewat hati nurani

yang kutahu
aku tetap tegar
dari kekalahan

dan tak kan lupa diri
dengan kemenangan

seperti juga mereka
yang di luar kita


Jayapura, 12 Mei 1994

Back to:
Index Karya 1989-95