Make your own free website on Tripod.com

Puisi-Puisi Yang Terkumpul
1995-1997
ZA. Mathikha Dewa


DAFTAR PUISI

Karya 1989-1995, Karya 1995-1997, Karya 1997/1998


Lima Bab


Bab I

kosong...
INGIN MEMBUAT KEPUTUSAN
tak peroleh apa-apa

PUISI tak bisa mewakili
PUISI semata DARAHKU
bukan AKU


Bab II

sesungguhnya
AKU SEDANG TIDUR
ketika CINTA MEMBANGUNKANKU

BENCI pun pada KATA-KATA PUITIS

kesadaran hidup
IKRARKU

mencintai SEGALANYA

seperti MATAHARI


Bab III

MENGHENTAK
hanyut
oleh SANG WAKTU

begitu TIBA-TIBA
engkau DATANG

hangatnya GENGGAMAN
kulepas


Bab IV

MERENUNGI-mu
seperti AIR
membuat basah
pun pasrah

MERINDUKAN-mu
seperti menemukan SESUATU

nyatanya
aku pun HANGUS terbakar

MENCINTAI-mu?
tidakkah malah
mencintai DIRI SENDIRI

mencintai-mu?
untuk MENINGGALKAN-mu?
adakah SEJATI?

BIRU
dan HIJAU
adalah LAUT
dan RIMBA

BENING
adalah AIR
BUMI ternyata
TEMBOK
yang MEMBATASI


Bab V

PERGI meninggalkanmu
SETIDAKNYA
adalah
KEMENANGAN
pada DIRI SENDIRI

Jayapura, Mei 1997

Back to Index.

 


Perjalanan Untuk 'Melihat'-Mu

berjalan aku
memandangi bukit di kejauhan
ada peristiwa
sebatang pohon raksasa tumbang
alam pun terang benderang

kuhampiri
kuperhatikan
adakah pohon ini sengaja ditebang?
ternyata
tak kulihat tanda-tandanya

adakah sengaja dicabut?
ternyata
tak juga kulihat
tanda-tandanya

bahkan tak ada tanda-tanda
telah berdiri sebatang pohon
yang kuat, yang kokoh
lantas kuragukan
adakah ini halusinasi belaka?

namun kuyakin itu
telah kulihat jadi saksi
kenapa hilang setelah tumbang?
adakah jatuh ke jurang?
mungkinkah di telan bumi?

hati pun dicekam was-was
padahal langit kian terang
kini kuteruskan langkahku
tak lagi peduli

untuk apa sekedar memperhatikan
sebuah pohon yang tumbang?

mataku menatap liar pada lereng bukit
ada bangunan
memberi cahaya
di sekelilingnya terang
dan banyak orang berkumpul
ku ingin tahu lagi
gerangan apa peristiwa
terjadi di sana?

kumasuki tempat itu
selangkah ke dalam
ada anak tangga menuju ke bawah
kenapa demikian dalam
tapi terang jalannya

kutanyakan pada mereka di situ
tak sebuah suara pun memberi jawaban
hanya ada isyarat
di sana ada ruang khusus
tempat kau 'melihat' Tuhanmu

aku memilih diam
namun kulihat
semua sedang bersatu padu
seolah ingin menyelidik
seolah ingin bersama-sama
sampai ke sana

kusaksikan
jalan itu sebenarnya begitu lebar

yang tak kumengerti
tak seorang pun berusaha saling mendahului
dan kian tak kumengerti
karena tak juga ada antrian

ataukah di tempat ini
egoisme tak ada lagi?

saat kudengar sebuah nama dipanggil
seorang masuk ke ruang itu

aku diburu keingin tahuan
dan tanpa sabar
tanpa bermaksud mendahului siapapun
aku masuk sekedar menyelidiki

menuruni tangga
seakan ada sesuatu
menuntunku memberi kenyamanan

lantas menduga
adakah yang sedang kutuju
adalah dasar hati?

ketika tiba pada titik tertentu
ada seorang penjaga dengan cambuk di tangannya
entah untuk apa

sebuah nama dipanggil
membuat gema
tapi bukan aku

mungkin aku bukan termasuk yang dipanggil saat ini
atau mungkin belum tiba giliranku

namun tiada lagi was-was
saat yakin
perjalanan ini dijaga oleh-Nya
maka aku pun tiada rasa takut lagi
namun selintas muncul dalam benak

adakah ini batas
antara aku dan hatiku sendiri?

saat kutatap lagi anak tangga ini
terasa kian curam menghujam
terasa kian dalam
namun serasa ruang tujuan
begitu dekat di depan mata

namun kenapa anak tangga ini
seolah tak berujung?
padahal mungkin dalam sekali lompatan
kita akan berada di pintu ruangan itu
pun akan lebih cepat
menjumpai-Nya
melihat-Nya
jika itu memang tujuan

sebersit kata merasuk dalam hati:

"Ya Allah, bimbinglah aku untuk melihat-Mu!"

aku tak pedulikan
andaikan ternyata ini sebuah doa
namun kata-kata itu kuucapkan bagai mantra
penuh keyakinan pada-Nya

namun sebuah pikiran mengingatkan
jangan berlama-lama di sini
andaipun mesti menjalani
sekarang bukan giliranmu
karena kau di sini sekedar ingin tahu
tanpa maksud mendahului

maka kuputuskan kembali
nyatanya aku tak lagi di tempat itu
padahal belum lagi kugerakkan ragaku

saat kurasakan
di tempat sekarang suasana penuh kegelapan
namun aku dapat memandang segala sesuatu dengan jelas

ternyata hari telah malam
aku telah berada kembali
di luar bangunan itu

kusaksikan
ada seorang laki-laki berpakaian kumuh
terikat pada sebuah tiang
saat ingin kubuka ikatannya
dia telah terbebas dari ikatan itu

lantas kulihat sebuah mata air
dari pipa yang berdiri di atas tanah
aku memutar kran
oleh keinginan spontan
untuk mensucikan diri dengan air itu

saat kubasuh diriku
orang tersebut menghampiri
namun tidak berkata-kata
tapi di sebelahnya ada perempuan cantik

lantas ada pertanyaan
inikah godaan bagiku?

namun belum lagi kutemukan jawaban
batinku memberontak marah
saat kusaksikan
betapa perempuan itu
diperlakukan semena-mena
di seret-seret di depan mataku

ini pelecehan, pikirku
maka aku berpikir untuk menentangnya

saat hampir kumaki
laki-laki itu menghampiriku dan berkata:

anda dituduh telah memperkosa perempuan ini!

lupa pada marahku
aku terperanjat

batinku membela diri
bahwa aku tak pernah kenal mereka
bahwa aku tak pernah melihat mereka
namun kenapa tiba-tiba aku seolah divonis?

ini pasti fitnah, pikirku
maka aku harus mempertahankan diri

nyatanya saat mataku menatap ke arah perempuan itu
aku tergoda oleh kecantikan
aku tergoda oleh keindahan
membuat jiwaku dirangsang nafsu
kaget sendiri pada gairah yang tiba-tiba muncul
lantas ada keinginan tanpa beban:
aku ingin bersenggama dengan perempuan itu
dan aku merasa harus melakukannya

tapi entah dari mana
muncul sosok seorang petualang
membayangkan kelelahan dari perjalanannya
ada nafsu namun juga ada wibawa
lewat di situ
ditariknya perempuan itu ke semak-semak
dia gagahi perempuan itu
mereka pun bersenggama

batinku tak menerima ini
kini aku benar-benar ingin marah
nyatanya entah kenapa
aku pun seolah ikut merasakan
kenikmatan yang sedang mereka raih

aku marah
tapi tak berdaya

aku marah
tapi kenapa ikut merasakan

aku ingin marah
AKU INGIN MARAH

dan kulampiaskan marah itu pada diri sendiri

lantas berpikir:
jangan-jangan sang petualang itu
adalah diriku sendiri

ah, ini iblis, tolak batinku

ketika puncak kenikmatan itu telah diraih
aku ingin mewujudkan marahku pada sang petualang

lantas kuserang dia

nyatanya entah kenapa
aku kini malah berada di atas tubuh perempuan itu
sejenak aku tergoda
namun ketika sang petualang itu lenyap dari pandangan mata
aku tak berdaya dalam pelukan perempuan itu
meski masih berpikir:
ini adalah iblis!
dan kulepaskan diri dari perempuan itu

ternyata tanpa kusadari sang laki-laki gembel tadi
masih ada di tempat ini

dia pun menghampiriku
dan tetap menuduhku telah memperkosa
padahal jelas-jelas kutahu
dia menyaksikan sang petualang itu bersenggama

tapi kenapa mesti aku
yang mempertanggungjawabkan
perbuatan sang petualang tadi?

apakah hanya karena
pikiranku ikut merasakan?
apakah hanya karena
aku sempat tergoda?

tapi itu kan tak kulakukan dengan jasadku ini!

atau memang begitu besar kesalahan pikiranku?
atau memang begitu besar kesalahan batinku?

batinku berteriak:

iblis!
fitnah!
ini iblis!

batinku berteriak apa saja
nyatanya semua itu pun
lenyap begitu saja

entah kenapa
kudapati diriku masih bersuci seperti tadi
kudapati diriku masih di mata air tadi

ada keinginan istighfar
nyatanya tak kulakukan
hanya berkata dalam hati:

ya Allah, bimbinglah aku untuk melihat-Mu!

berkali-kali itu kuucapkan bagai mantra
hingga lidahku kelu
tak sanggup lagi keluarkan suara

kurasakan air yang membasahiku
begitu dingin
begitu sejuk

dan kudapati jiwaku tenang
dan kudapati jiwaku dipenuhi kesejukan
dan kudapati jiwaku dalam kedamaian

dan muncul motivasi
aku harus lebih kuat dari sebelumnya
aku akan hadapi apapun
tanpa takut dan ragu

entah itu musuh nyata
entah itu musuh dari dalam diri sendiri
akan kuhadapi
sampai tiga giliranku
dan aku akan melihat-Nya!

Jayapura, 30 Oktober 1995

Back to Index


Nocturno


lolongan panjangku
ke arah-Mu
tentu Kau dengar

adalah manifestasi rasa rinduku

aku pun bertanya?
adakah itu sampai pada-Mu?
meski pada derajat terendah yang ada
yang Engkau kehendaki

Dari serpihan waktu
belenggulah aku
dalam cahaya-Mu
agar aku pun tak lepas dari-Mu
lantas Aku pun berkata:

aku tetap berhubungan dengan-Mu

dalam waktu yang tersedia
meski cuma seperjuta detik
ataupun
dalam waktu paling kecil
yang telah Engkau tetapkan

bahkan dalam waktu yang tiada

maka siapapun
boleh membunuhku
dalam kehendak-Mu

dan aku

tetap bersama-Mu

Abepura, Jayapura 25 Maret 1996

Back to Index

 


November 13

seandainya
saat ini
aku di hutan
di bawah gunung
barangkali
kudapati kebebasan

seandainya
di dalam goa sendiri
mungkin
s a m a

di dalam gelap
memang sendiri
tapi sempit

bahkan meskipun l u a s
terlalu banyak
bayang-bayang menari
lantas capek sendiri

takut entah
ditakuti entah

merindukan apa sebenarnya
aku pun ragu pada khayalku

Abepura, 1997

Back to Index

 


Kematianku

kematianku adalah duka cita bumi
akhir perjalanan
akhir petualangan
menuju kehidupan sesungguhnya

kematianku adalah
kegembiraan bumi menerima
bagi jasad yang telah kosong
dari falsafah-falsafah hidup
dari angan dan cita-cita
dari pikiran dan karya
bahkan dari udara
bahkan dari kekosongan

kematianku adalah
kegembiraan langit menerima

kematianku adalah
segala macam bentuk pelepasan

dan kematianku adalah
pencapaian 'kesejatian'

Abepura, 10 April 1996

Back to Index

 


Pemberontakan


aku adalah seorang pemberontak
meski ternyata
hanya pada diri sendiri

bukan pada negara
bukan pada hukum
apalagi pada Tuhan

dan perjuanganku adalah
sisa-sisa waktu bersama-Nya

dan perjuanganku adalah
jalan panjang ke arah kemenangan sejati

aku adalah seorang pemberontak
namun bukan perusuh
aku adalah seorang pemberontak
namun bukan pengacau

aku pemberontak
tapi bukan oleh hasutan

di manapun adanya
tanahku adalah tempat berpijak

di mana pun adanya
tanahku senantiasa menuntut
agar aku sadar
bahwa aku akan kembali ke tanah
tanah di mana pun adanya

memandang segala penjuru
aku pun kian paham
tentang hak dan kewajiban
tentang pelanggaran hak asasi

Abepura, 25 Maret 1997

Back to Index

 


Duka I

konsentrasiku terganggu
aku mencoba pasrah
mentertawai diri sendiri
tapi bukan frustrasi

h i d u p ' kian terasa mendekati
k e s e j a t i a n
saat terakhir kian dekat

duka yang bertubi-tubi
adakah pertanda ' k e b a h a g i a a n ?
aku pun tak ingin pernah
merasakan ' k e m a l a n g a n
ataupun ' b a h a g i a

aku inginkan
k e h a m p a a n
menuju ke arah-Nya

kurasakan
kepekaanku kian ' t u m p u l
saat idealisme ' k i a n ' t e r k i k i s

namun kucoba membangunnya kembali

Abepura, 25 Maret 1996

Back to Index

 


Duka II


apa yang kurasakan kini
tak dapat ku d e f i n i s i k a n
inikah yang disebut kehambaran?
padahal seribu harapan
ada di benakku

kurasa
aku sedang membangun khayalanku kembali

sekian lama
tak kujenguk diriku
YANG SEDANG SAKIT

perasaanku yang 'h i l a n g
menimbulkan harapan
bagi bangkitnya perasan baru
tentang ' h i d u p

Abepura, 25 Maret 1996

Back to Index

 


Ketika

ketika kurasa
kau terima kehadiranku
gejolak masih lagi harus kutahan
sebab sisa perjalanan
harus ' d i t e m p u h
hingga di titik kita dipersatukan
dan kulakukan itu
dengan cucuran keringat
dari ' p i k i r a n k u

akhirnyalah
meski segalanya tergantung kehendakNya
telah kutancapkan dua kemungkinan
bagi kita

kemenanganku pada masa depan
membimbingku ke arahmu

namun kegagalanku
membuatku menjauhimu

mungkin klise
atau kepengecutan
tapi itulah kenyataan

sebab aku tak sanggup
mengayuh biduk
yang membawamu
dalam kegagalanku

Abepura, 26 Maret 1996

Back to Index

 


Detak


tiba-tiba aku dibangkitkan oleh rasa rindu
pada puisi

tiba-tiba pun
aku diselimuti ' d u k a
pada perpisahan
yang akan kulakukan

akankah kujumpai
para ' s a h a b a t
seperti di sini?

padahal
untuk apa bertanya

aku rindu puisi ' s e d e r h a n a

tidakkah akan kau bingkiskan aku
p u i s i ' s e d e r h a n a

menjelang kepergianku?

sesungguhnya
aku ingin meminta
apakah akan kau beri?

ataukah kau ' t a k u t ?

sesungguhnya pun
aku tak kan pedulikan itu

aku inginkan darimu
sebuah puisi sederhana
tentang a p a ' s a j a

mungkin secangkir kopi

Abepura, Jayapura, 17 Maret 1997

Back to Index

 


Sesak...


apa benar
minum alkohol
bisa 'menyirami' jiwa
jadi ' s e j u k

aku bertanya
bosan teori

apa benar
ekstasi
bikin 'melayang'
b e b a s k a n ' jiwa

aku bertanya
bosan teori

apa benar
a s a h - a s a h
jadikan otak ' t e n a n g

aku bertanya
bosan teori

lantas di mana
tempat segala ' p e l a m p i a s a n ?

Tuhan!
Engkau dengar aku
tanpa perlu teori

Abepura, Jayapura, 13 November 1997

Back to Index

 


 

Kisah Wanita-Wanita Sok Suci dan Laki-laki Sok Suci


wanita-wanita sok suci
berkata pada laki-laki sok suci
"j a n g a n ' d e k a t i ' a k u !"

laki-laki sok suci
malah jadi suci

wanita-wanita sok suci
m a r a h ' pada laki-laki sok suci

laki-laki sok suci diam saja

wanita-wanita sok suci
m a r a h ' l a g i
laki-laki sok suci
d i a m ' l a g i

wanita-wanita sok suci
m a r a h ' t e r u s

malah menasehati
malah mencibir
malah buka mulut kian lebar

laki-laki sok suci
jadi ' t i d a k ' t a h a n

nyatanya
laki-laki sok suci
t e t a p ' d i a m
meski ingin ' m a r a h ' juga

akhirnya jadi ' b e n c i
akhirnya jadi ' d e n d a m
akhirnya membuat ' r e n c a n a
akan balas dendam
s e h a l u s ' m u n g k i n

Abepura, Jayapura, 1997

Back to Index

 


 

Iya...


apa yang ingin ' k u k a t a k a n
adalah sebuah pertanyaan dari hati

sebab ternyata fakta tak bisa dielakkan
aku berada di sisi yang pasti
tentang sesuatu ' y a n g ' m u n g k i n

muak pada pikiran
aku merenung ' s e n d i r i

apakah selamanya ' m e s t i ' b e g i n i

harapan selalu disandarkan
menyerah pada takdir
padahal dada ' t r u s ' berguncang
meski aku tahu pasti

tapi
aku tak peduli
sebab itu ' t i d a k ' m e s t i

yang kubutuhkan adalah 'k e b e r a n i a n m u
dan aku pun mesti bicara
pada kesempatan pertama
tentang apa pun
yang kurasa ' s a a t ' i t u

dan ketika kucoba tulis
semua kata-kata ' s a a t ' i n i

penaku ' j a t u h

Abepura, Jayapura, 1997

Back to Index

 


 

Idul Fitri


sebuah lubang cahaya di langit
terbuka ' u n t u k k u

rembulan muncul dari balik awan
berlari oleng
m e n j a u h i

sebuah lubang cahaya di langit
terbuka 'u n t u k k u
berwarna ungu
untuk lantas tak ' b e r w a r n a

aku yang baru bangun
dari ' t i d u r
hanya ' m e n y a k s i k a n
fenomena itu

peristiwa ' s a k r a l ' apa lagi?


Abepura, 25 Maret 1997

Back to Index